Rabu, 11 Februari 2009

Berbanggalah, Wahai Penyandang Nama Mahasiswa Universitas Pendidikan!


Universitas Pendidikan...
Nama itu begitu elegan apalagi disemat dibelakangnya nama bangsa yang besar, Indonesia. Berbanggalah siapa yang mengenyam tempaan pendidikan disana sebagai penyandang misi agung perikemanusiaan, yaitu pendidik!

Kuliah di perguruan tinggi adalah anugerah jika kita berdiri di tanah berbendera Indonesia. mereka yang mengenyam pendidikan hingga tersemat padanya gelar mahagelar yang disandang kaum terdidik: mahasiswa, adalah orang-orang beruntung. Klasik, diperlukan modal finansial yang tidak sedikit untuk bisa duduk nyaman menyimak kuliah bijak dari dosen tentang cakrapandang pengetahuan, apalagi di universitas dengan embel-embel to world class. Adapun mereka yang skeptis untuk mengejar pendidikan akan berpikir dua kali untuk membeli pengalaman bisa studi di perguruan tinggi. Dapat dimaklumi, bahwa lulus kuliah pun belum tentu bisa sejahtera...

Tetapi pendidikan, meski di negeri ini berwajah suram karena selalu dan selalu diperlakukan tidak lebih baik daripada belanja negara pemerintah untuk membiayai para terhormat anggota dewan di parlemen, tetaplah ia menjadi landasan berpijak peradaban. Prototipe paling nyata bagaimana pendidikan bisa mengubah wajah peradaban dari yang ‘nyaris hilang’ menjadi yang terdepan adalah heroiknya kebijakan Kaisar Hirohito pascapeluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 untuk lebih dulu mengumpulkan para guru yang tersisa...

pendidikan...

Maka Jepang adalah bangsa yang sempat dididik dari titik nadir kekalahan, yang perlahan merangkak menjadi raksasa. Hasilnya adalah semua sendi menjadi lahan pemenangan bangsa Samurai itu hingga strata global. Tersebutlah salahsatunya teknologi, yang kemudian Nippon diidentikan sebagai inventor terdepan.

Lalu bagaimana dengan negeri bernama Indonesia? tanah tumpah darah yang konon pernah diramal banyak pengamat sebagai macan Asia di masadatang dikarenakan potensinya yang melimpah dari segi sumberdaya (alam tentunya). Dengan letak geografis yang hampir berdekatan dengan negeri Sakura yang dulu sempat menjajahnya tiga tahun setengah, apakah juga akan menjadi bangsa yang bisa bangun dengan keajaiban pendidikan?
***

Di negara ini hanya UPI (dulu IKIP: Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) universitas negeri yang memasang nama pendidikan untuk institusinya. Walau masih kalah populer dengan dua perguruan tinggi negeri lainnya di Kota Bandung (baca: Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (UNPAD)), UPI masih menjadi pilihan ekstensi studi pasca sekolah menengah atas meski, kebanyakan ditempatkan dalam pilihan kedua atau ketiga (jika ada mungkin yang keempat) di formulir SPMB/SNMPTN.

Namun begitu, bisa disebutkan tanpa melihat data statistika yang formal bahwa tak seluruhya mereka yang terdaftar secara sah sebagai mahasiswa di UPI benar-benar secara nuraniah mengambil pilihan hidup berkarier dalam cimpungan dunia pendidikan. Alasan yang paling masuk akal adalah karena pendidikan tidaklah familiar dengan dunia bisnis yang berkelindan dengan kata laba; profit; keuntungan yang dapat diukur dengan uang. Pendidikan adalah paradigma yang mungkin terasa kolot bagi pencari karier sebagai dunia yang layak dijadikan tempat bersandar secara ideal.

Memasuki ranah pendidikan, kadung pemahaman sederhana kita akan langsung terhubung dengan lema ‘pendidik’. mendapati kata ‘pendidik’, secara refleks otak akan memunculkan kata ‘guru’. Dan kata ‘guru’ dalam bayangan yang biasa diserap benak melalui mass media dan kenyataan faktual di lapangan adalah: profesi yang identik dengan hidup susah karena gajinya bisa tidak lebih besar dari upah kerja sampingan...

Maka muncullah ungkapan satir yang menyebutkan bahwa menjadi guru adalah profesi yang dipilih paling terakhir jika profesi lain gagal didapatkan. seakan menjadi sipir penjara adalah lebih baik dari menjadi guru...

Namun mungkin tidak begitu bagi mereka yang sejak belia bercita menjadi guru (baca:pendidik) sebagai kariernya di masa depan. Ada alasan idealisme, yang salahsatunya adalah peluang seorang pendidik untuk mengubah nasib bangsa dengan memulainya dari belasan hingga puluhan anak muda hingga dewasa di kelas-kelas.
***

Menjadi pendidik kenyataannya tak harus secara sempit berarti menjadi guru. Pendidikan memberikan lahan dengan kemungkinan penjelajahan garap peradaban yang luas, dan tentu dengan satu bahasa yang akan selalu berlaku digunakan dimanapun selama pendidikan digaungkan, yaitu memanusiakan manusia...

Dan pendidikan adalah dedikasi pada negeri... Jika bangsa ini sedang sakit kronis yang komplikasi dan menahun, sepertinya tak ada obat yang lebih mujarab dari pendidikan... tidak juga pembangunan ekonomi secara besar-besaran atau mendongkrak ketahanan pangan secara ekstrim sekalipun jika pendidikan tak menjadi alasnya. mengapa?

Tanyakan pada guru yang sedang mengajar... mereka selalu akan bijak menyediakan jawaban yang memuasakan mengenai apa dan bagaimana peradaban itu sejatinya terbentuk dan terbangun...

Dengan media apalagi anak-anak manusia bangsa ini ditempa menjadi tangguh, beragama, berakhlak, beretoskerja, bercita, berkarya dan beradab selain dengan pendidikan?!

Maka berbanggalah wahai penyandang nama mahasiswa universitas pendidikan! karena dipundakmulah cahaya peradaban diletakkan...***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar