Rabu, 11 Februari 2009

Mengalir Berarti Hidup...


KONON, spesies jenis apapun akan sulit hidup di Laut Mati. Kadar garamnya memang terlalu tinggi...
Penyebabnya sederhana saja. Laut Mati mendapat suplai dari Sungai Yordan, tetapi tak memiliki celah untuk membagi pasokan air. Penyusutan debit air hanya disebabkan oleh penguapan. Praktis kadar garamnya kian meninggi... dan nyaris tak ada kehidupan di sana.

Begitulah, Laut Mati yang tak mau mengalir, tak mau membagi apa yang menjadi miliknya, hanya menjadi laut kematian...
Namun Laut Galilea, yang bersumberkan air dari sungai yang sama justru sebaliknya. Kesegaran dan reriak hidup tampak di sana. Rahasianya adalah karena Laut Galilea mengalir. Ia menerima tetapi tak menyimpannya. Ia membagi. Ia tak serakah. Ia seimbang maka ia hidup...

Laut Galilea berbagi dan hidup, laut yang satunya tak pernah memberi apa-apa. Namanya Laut mati. Ada dua laut di Palestina...
(Bruce Barton. The Man Nobody Knows)

Hidup, kata pepatah, terlalu sebentar untuk menjadi egois. Maka berbagilah agar usia panjang. The power of giving! Kekuatan memberi adalah kekuatan hidup. Maka, apa yang sudah dan akan kau beri dalam kehidupan, agar hidupmu bermakna?
Kesempatan berbagi adalah peluang untuk mengalir. Ya, sebuah simfoni sunatullah yang indah dalam tatanan kehidupan, bahwa telah terpatri fitrah atas kecenderungan makhluk berhati dan berakal bernama manusia untuk selalu menyukai rasa berbagi.
Berbagi dengan keikhlasan penuh adalah rumus kekayaan jiwa. Cobalah rasakan bedanya sentuhan-sentuhan kerja dengan ketulusan berbagi dengan yang hanya berniat memuluskan kepentingan-kepentingan pribadi. Biarkan hati kecil menjadi penilainya. Biarkan kepuasan jiwa menjadi alat ukurnya. Akan berbeda. Sungguh akan berbeda... kuantitas energi yang dilepaskan mungkin sama. Tapi efek umpan balik yang diterima akan jauh berbeda.
Namun berbagi tak seperti menuang air dari botol ke cangkir...
Karena bisa jadi apa yang kita bagi tidaklah mengurangi ‘air’ yang kita punyai. Membagi ilmu dan inspirasi adalah juga berbagi, namun justru semakin membuat kita kaya. Semakin kukuh ia melekat pada sang pembaginya.
KOMUNIKA adalah wacana yang digagas dengan semangat berbagi. Ya, berbagi ilmu dan inspirasi, atau apapun yang kita miliki, asalkan bermanfaat dan konstruktif. Program KOMUNIKA memang dirancang dengan tujuan akademika. Namun dibaliknya, ada visi agung untuk mewujudkan saripati kemanusiaan: pendidikan, keimanan, keilmiahan... Mari berbagi tentang itu.

Metode KOMUNIKA adalah pembinaan komunitas. Kegiatan mentoring akan menjadi agenda tak terpisahkan sepanjang program. Maka peran mentor akan sangat krusial dalam skema pembinaan komunitas.
Komunitas yang hidup adalah komunitas yang mengalir. Seorang mentor akan membuat komunitas mengalir dinamis dengan satu semangat saja: semangat berbagi. Ya, semoga dari niat yang sederhana, akan terbentik percikan yang kemudian semakin membara menjadi lejitan potensi.
Maka jelaslah, menjadi mentor, adalah menjadi pembagi...
Ada kalanya pengalaman yang sudah diraup lebih banyak dari angkatan yang dimentor (2008), menjadi hal yang begitu membantu bagi mereka untuk menggapai prestasi yang baik di akademiknya jika dibagi.
Sesungguhnya, tak perlu menjadi mahasiswa dengan kapasitas ideal jika hal itu belum memungkinkan. KOMUNIKA adalah wacana baru yang akan senantiasa dan niscaya untuk memulai proses. Dan proses mentoring yang ideal itu membutuhkan waktu dan proses untuk menemukan bentuk terbaiknya. Begitupun dengan mentornya.
The Power of Mentor...
Mentor adalah mahasiswa biasa. Namun—sekali lagi, akan menjadi luar biasa ketika menerbitkan satu semangat layaknya Laut Galilea! Tetapi, apakah dengan berbagi saja akan cukup menjadi mentor KOMUNIKA ideal? Tidak tentu saja.
Karena sungguh banyak kualifikasi ideal yang mesti dicapai. Karenanya, mentor yang baik adalah mentor yang pembelajar..
Ya. KOMUNIKA adalah tentang pembelajaran. Di setiap strata dan keadaan, berposisi mentor atau termentor, mari bumikan pembelajaran. Agar jargon keilmiahan itu, tak hanya manis terasa dalam kata... namun menyentuh tiap ranah sebagai budaya.
Semoga!***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar